Budaya
Malang
Kekayaan etnis dan
budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisional yang
ada. Salah satunya yang terkenal adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang),
namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud
pertemuan tiga budaya (Jawa Tengahan, Madura, dan Tengger). Hal tersebut
terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur budaya Jawa
Tengahan yang hidup di lereng gunung Kawi, sub-kultur Madura di lereng gunung
Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Majapahit di lereng gunung
Bromo-Semeru. Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja
keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA) serta
menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada malang.
Tari Topeng Malangan, Tergerus Waktu
Malang sebenarnya
tidak melulu tentang udara dingin dan apelnya. Lebih dari itu Malang menyimpan
kebudayaannya sendiri, yang sayangnya tergerus waktu. Seperti salah satunya
adalah seni pertunjukan tari Topeng Malangan. Keberadaan tari Topeng
Malangan sudah ada sejak abad ke-13 Masehi. Seni pertunjukan topeng ini
memiliki akar pada tradisi pemujaan terhadap nenek moyang dari masyarakat yang
masih menganut kepercayaan animisme pra Hindu di Jawa. Para penari topeng dianggap
sebagai media atau wadah bersemayamnya roh nenek moyang. Mereka percaya bahwa
nenek mpyang itu datang untuk memberi berkat kepada anak cucunya dan
menerima pemujaan mereka.
Panji Asmorobangun
Pementasan tari topeng
ini, biasanya membawa cerita kisah Panji Asmorobangun. Yakni putera mahkota
dari kerajaan Daha, atau Doho, yang merupakan salah satu kerajaan besar di
Jawa. Karakter-karakter pada cerita ini adalah, Raden Panji Inu Kertapati
(Panji Asmarabangun), Galuh Candrakirana, Dewi Ragil Kuning atau Raden
Gunungsari. Karakter-karakter yang dibawakan oleh para penarinya sangatlah
beragam. Seperti kalangan ningrat yang bergerak dengan elegan, anggun,
berwibawa, atau karakter yang membuat penarinya memainkan gerakan keras,
agresif, dan tergesa-gesa.
Ada berbagai macam
versi dari cerita Panji ini, namun biasanya mempunyai alur cerita yang tidak
terlalu jauh berbeda. Yakni berkisah tentang pangeran yang menyamar menjadi
rakyat jelata untuk mencari istri atau kekasihnya yang menghilang. Cerita
rakyat Jawa seperti Ande-Ande Lumut dan Keong Mas, juga dianggap sebagai versi
lain dari cerita Panji.
Ringkasan cerita Raden
Panji tersebut kira-kira seperti berikut:
“Alkisah Raden Panji Asmarabangun
adalah putera mahkota dan akan menggantikan kedudukan Ayahandanya sebagai raja.
Sedangkan Galuh Candrakirana adalah puteri raja kerajaan Jenggala. Kedua putera
dan puteri mahkota itu dijodohkan dalam rangka mempererat hubungan diplomatik
kedua kerajaan. Sayangnya kedua anak raja tersebut menolak perjodohan ini,
karena Raden Panji telah mempunya kekasih yang bernama Dewi Anggraini, puteri
patih kerajaan Panjalu. Singkat cerita, sang Raja, ayah dari Raden Panji
Asmarabangun memerintahkan untuk membunuh Dewi Anggraini karena dianggap
menjadi penghalang bersatunya kedua putera puteri Raja. Setelah kematian Dewi
Anggraini, Raden Panji Asmarabangun mencari Dewi Galuh Candrakirana untuk
dinikahinya. Cerita berakhir dengan perkawinan Raden Panji Asmarabangun dan
Dewi Galuh Candrakirana.”
Panggung
Panggung pertunjukan
kesenian ini biasanya penuh dengan ornamen khas masyarakat Hindu Jawa.
Pertunjukan Topeng Malangan biasanya dipentaskan setiap Senin Legi (kalender
penanggalan Jawa) di sanggar tari Asmoro Bangun yang terletak di daerah Dusun
Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Malang. Pertunjukan tari tersebut
diselenggarakan oleh komunitas tari pimpinan (alm.) Mbah Karimun, seorang
maestro tari Topeng Malangan dan pelestari budaya tari topeng hingga menjadi
ikon budaya kebanggaan kota Malang.
Pertunjukan dibuka
dengan iringan musik gamelan Jawa yang disebut Gending Giro. Ciri khas musik
pengiring ini adalah tenang dan syahdu. Tujuannya adalah untuk mengalihkan
perhatian penonton sekaligus untuk memberitahukan bahwa pertunjukan tari akan
segera dimulai. Pada beberapa pertunjukan tari topeng, kadang-kadang ada yang
menampilkan Tari Remo sebagai ucapan selamat datang kepada para tamu atau
hiburan ringan lawak atau ludruk.
Selanjutnya seorang
penyanyi yang disebut sinden, menyanyikan lagu berbahasa Jawa kuno. Sinden
berperan menceritakan ringkasan kisah yang akan dimainkan para penari.
Kemudian, seorang anggota komunitas akan menyampaikan sambutan, menyapa
penonton, dan menceritakan sinopsis cerita.
Sajen
Sebelum pertunjukan
dimulai, dalang membaca mantra dan membawa persembahan ke panggung yang
ditujukan kepada roh nenek moyang. Sajen ini untuk mencegah terjadinya bencana
selama pertunjukan berlangsung. Persembahan atau sesajen itu biasanya berupa
kemenyan, sesisir pisang, air sari tape, bunga-bungaan, daun sirih segar, uang,
nasi tumpeng, dan telur.
Setelah berbagai
ritual diselesaikan, maka dimulailah pertunjukan tari topeng yang berlangsung
sekitar tiga jam saja. Dahulu, pertunjukan tari topeng ini bisa berlangsung
mulai kira-kira pukul 20.00 hingga subuh. Namun seiring perkembangan zaman,
masyarakat lebih menyukai jalan cerita yang tidak terlalu panjang dan
membosankan.
Bagian yang terakhir
adalah tradisi memakan sesajen bersama-sama setelah pertunjukan tari selesai.
Hal ini berbeda dengan ritual pada zaman dahulu, yaitu setelah pertunjukan
sesajen tidak dimakan tetapi diletakkan di sebuah punden (tempat keramat yang
terdapat makam pendiri daerah).
Tergerus Waktu
Salah satu komunitas
kesenian Tari Topeng Malangan yang saat ini masih tetap aktif adalah sanggar
Seni Asmoro Bangun pimpinan Bapak Handoyo, cucu dari Alm Mbah Karimun, seniman
tari sekaligus perintis sanggar seni tersebut. Selain tetap giat mengajarkan
para generasi muda tari Topeng Malangan dan menyelenggarakan pentas tari secara
teratur, sanggar seni ini juga merupakan pusat pengrajin topeng di kabupaten
Malang.
Tidak dapat dipungkiri
bahwa era kekayaan budaya ini semakin jauh terlewati. Bahkan kesenian ini sudah
hampir mencapai masa kepunahannya karena minimnya regenerasi. Era globalisasi
dan modernisasi telah membuat minat para generasi muda untuk menekuni seni
pertunjukan tari topeng atau menjadi pengrajin topeng semakin berkurang.
Sangat diperlukan
dukungan pemerintah terutama Dinas Pariwisata dan Budaya kepada komunitas
pelestari budaya ini pada khususnya. Termasuk komunitas-komunitas seni budaya
yang lain pada umumnya demi melestarikan kekayaan budaya Indonesia, termasuk
seni pertunjukan tari Topeng Malangan.
Kota Malang merupakan surga bagi pengiat kuliner jenis apapun .
Namun cita rasa kuliner tersebut yang membuat bertahan dan layak mendapatkan
julukan kuliner legendaris . Berikut ini beberapa kuliner legendaris di Malang
1. Warung Lama Haji Ridwan ( Tahun 1925 – Sekarang )
Warung Lama H. Ridwan
ini sangat dikenal masyarakat Malang akan citarasanya yang legendaris. Seperti
namanya, Warung Lama H. Ridwan ini memang sudah ada sejak lama, yakni sejak
jaman sebelum kemerdekaan Indonesia dari tahun 1925. Sejak saat itulah, warung ini
sudah berhasil memenuhi selera kuliner masyarakat Jawa Timur, khususnya di
Malang.
Di rumah makan ini,
aneka menu yang dihadirkan sejak dahulu masih memiliki citarasa yang sama dan
sangat khas. Resep masakan Jawa Kuno yang dihadirkan pun sungguh sangat
menggoda dan nikmat untuk dicicipi. Anda akan dapat menikmati aneka menu
andalan Kota Malang juga di tempat ini.
2. Depot HTS / Han Tjwan Sing ( Tahun 1927 – Sekarang )
Depot HTS atau Han
Tjwan Sing yang telah berdiri sejak 1927 ini merupakan tempat kuliner sekaligus
persinggahan bagi pelancong yang melakukan perjalanan keluar kota Malang, ke
arah utara, misalnya ke Surabaya. Makanan yang menjadi primadona di HTS adalah
onde-onde HTS dan rawon merah.
Kue onde-onde bikinan
Depot HTS teksturnya bulat cantik dan kenyal tidak keras. Jajanan bertabur
wijen ini digoreng sempurna warnanya kekuningan. Ada banyak pilihan isi selain
kacang hijau, sebut saja isi kelapa dan kacang merah. Terdapat juga onde-onde
yang terbuat dari ketan hitam dengan kenikmatan yang tak kalah jempolan.
3. Soto Daging Rahayu ( Tahun 1928 – Sekarang )
Di lokasi yang tak
jauh dari Warung Lama H. Ridwan ada penjual soto daging, nama pemiliknya Hj.
Puji Astutik atau biasa disapa Tutik. Warung soto ini juga sudah ada sejak
tahun 1928. Lokasi warung soto daging Hj. Tutik tampak lebih sederhana.
Tempatnya berada di pojok perempatan stan pasar, sehingga terkesan agak
menyempil.
Lokasinya sederhana
namun kepopuleran soto daging ini tidak kalah dengan pamor warung lamanya H.
Ridwan. Terbukti, setiap hari warung soto ini juga ramai dipadati pembeli.
Tutik merupakan orang keempat yang mengelola sejak warung soto itu dibuka di
era zaman Belanda. Yang merintis warung ini adalah seorang pria bernama Saidi,
kemudian diteruskan oleh anaknya Supiatun, lalu diteruskan oleh ibunda Tutik,
Hiyana. Baru kemudian pada tahun 1985 dilanjutkan oleh dirinya hingga saat ini.
Soto daging Tutik memang terasa khas karena pengguna resepnya yang digunakan
secara turun temurun termasuk dalam memilih bahan yang selalu diutamakan
berkualitas.
4. Toko Oen ( Tahun 1930 – Sekarang )
Toko Oen yang terletak
di dekat Alun-Alun Kota Malang ini sudah ada sejak jaman Penjajahan Belanda
pada tahun 1930. Cerminan tuanya usia Toko Oen ini nampak sekali pada desain
arsitektur bangunannya yang khas Belanda serta pajangan foto hitam putih
suasana Kota Malang di masa lampau. Furnitur seperti kursi rotan rendah yang
ditata mengelilingi meja bundar juga nampak sangat khas tempoe doeloe.
Sejak dulu, Toko Oen
ini sudah dikenal dengan ice creamnya. Varian rasa es krim seperti Tutti Fruity
Cassata yang terbuat dari buah-buahan, kemudian Sparkling Delight yakni es krim
buah cocktail yang disajikan dengan kembang api menyala, lalu Morkus yakni es
krim dengan cita rasa kopi, dan masih banyak lagi lainnya. Para pemburu kuliner
legendaris, perlulah singgah sejenak ke tempat makan legendaris ini.
5. Putu Lanang Celaket ( Tahun 1935 – Sekarang )
Putu Lanang-lah
tempatnya. Di tempat ini, Anda dapat memilih aneka macam jajanan seperti putu,
cenil, lupis, dan sejenisnya. Berada di ujung sebuah gang di Jalan Jaksa Agung
Suprapto, yang merupakan jalan utama di Malang. Usaha yang dirintis sejak 1935
di kawasan Celaket ini banyak diburu pecinta jajanan tradisional Jawa di kota
Malang.
Jajan pasar yang
ditawarkan yaitu puthu, lopis, klepon, dan cenil. Buat Anda yang kangen dengan
jajanan klasik di masa kecil bisa langsung menuju ke Warung Puthu Lanang. Per
porsi puthu, klepon, cenil, dan lopis disajikan di atas daun pisang yang
diguyur air gula merah kental dan ditaburi parutan kelapa. Jajanan ini bisa
dicampur komplit atau terpisah.
6. Tahu Lontong Lonceng ( 1935 – Sekarang )
Salah satu kuliner
legendaris di Malang adalah Depot Tahu Lontong Lonceng . Terletak di Jalan
Laksamana Martadinata no.66 . Siapa sangka Depot Tahu Lontong ini sudah ada
sejak sebelum jaman kemerdekaan yakni tahun 1935 dan tetap bisa survive sampai
sekarang dengan cita rasa yang tidak pernah berubah.
Cara penyajian tahu telur Lonceng cukup unik. Sambal petis di dasar piring lalu
diberi irisan lontong dan paling atas ditaburi tahu telur. Rasa makanan ini
terbukti telah membuat banyak pelanggan merasa ketagihan sehingga tak
mengherankan jika Depot milik Bpk. Abdulrohim ini tak pernah sepi pembeli.
Meski tempat yang tersedia termasuk sempit, tetapi karena cepatnya pelayanan,
maka kita tidak perlu antri terlalu lama jika ingin makan di tempat.
7. Bakso Geprak Mbah Djo ( Tahun 1935 – Sekarang )
Bakso geprak dan soto
geprak Mbah Djo adalah salah satu kuliner tempo dulu yang dimiliki oleh kota
Malang. Rasa serta kualitas masakan benar-benar lain dibandingkan dengan bakso
atau soto pada umumnya karena menggunakan cara pengolahan serta resep rahasia sejak
tahun 1935. Bakso dan Soto Geprak Mbah Djo merupakan suatu produk olahan daging
yang diperkenalkan pertama kali di kota Malang oleh seorang mbah Djo muda pada
tahun 1935. Dan rahasia itu baru terungkap oleh anak cucu cicit beliau lewat
tulisan tangan resep rahasia beliau.
Proses pengolahan
dilakukan dengan cara menumbuk/menggeprak daging hingga halus sehingga serat
daging terpisah dengan sendirinya tanpa harus ada proses pemotongan serat
seperti yang terjadi pada produk bakso pada umumnya. Untuk menjamin dari segi
kebersihan, kesehatan, dan efektifitasnya, maka untuk saat ini sudah
menggunakan mesin modern penumbuk daging dengan prinsip kerja yang sama dengan
proses tradisional guna untuk mempertahankan cita rasa yang ada.
8. Rawon Brintik ( Tahun 1942 – Sekarang )
Warung nasi rawon yang
unik dan memiliki sejarah panjang ini didirikan sejak 1942. Dinamakan rawon
brintik karena sang istri pemilik warung ini memiliki rambut keriting atau
brintik. Hingga nama ini melekat menjadi brand warung rawon khas Malang ini.
Terletak di Jl. K.H. Ahmad Dahlan 39 Malang
Yang paling khas dari
warung ini tentu saja nasi rawonnya. Dagingnya sangat empuk dan terasa lumat di
lidah. Seperti lazimnya penyajian nasi rawon di kota Malang, rawon dan nasi
tersaji dalam satu piring bertabur kecambah. Agar lebih nikmat tambahkan sedikit
sambal dan lauk dendeng paru. Santap bersama kerupuk udang yang renyah atau
keripik belinjo yang sudah tersedia di masing-masing meja.
9. Angsle & Ronde Titoni ( Tahun 1948 – Sekarang )
Awalnya pada 1948
usaha makanan angsle dan ronde ini berjualan di depan toko jam Titoni di dekat
Pasar Besar Malang. Kemudian lambat laun berkembang hingga pelanggan banyak
yang mengenal dengan nama Depot Ronde Titoni.
Untuk urusan angsle,
Titoni memang bisa diandalkan, maklum saja di kota Malang warung yang menjual
ronde atau angsle yang nikmat hanya bisa dihitung jari. Seporsi angsle terdiri
dari kacang hijau yang empuk, irisan roti tawar yang dipotong kotak-kotak,
agar-agar mutiara, pethulo, yang kemudian diguyur dengan kuah santan berasa
gurih manis. Anda bisa menemuinya sekarang di Jalan Zainul Arifin
10. Bakpao Boldi ( Tahun 1950 – Sekarang )
Bakpao Boldy Malang
yang terkenal akan kelembutan dan citarasanya yang lezat saat dinikmati.
Terletak di Jalan Mangun Sarkoro No.25, Malang. Untuk menjaga citarasa yang
alami tidak menggunakan sedikitpun bahan kimia berbahaya melainkan menggunakan
bahan alami berkualitas yang baik dan sehat untuk segala usia.
Bakpao Boldy
Malang juga menyajikan beragam varian bakpao yang wajib Anda coba antara
lain seperti rasa ayam cincang, babi cincang, ayam kecap, babi kecap, kacang
hijau, kacang tanah dan tausa. Karena tekturnya yang lembut dan citarasanya
yang lezat membuat Bakpao Boldy Malang menjadi menu hidangan yang nikmat untuk Anda coba.
11. Soto Daging Pak Markeso ( Tahun 1950 – Sekarang )
Nama sotonya diambil
dari nama penjualnya, Pak Markeso. Bapak yang usianya sudah sepuh ini sudah
berjualan soto daging khas Madura sejak tahun 50-an. Ada bumbu khas Madura yang
digunakan sebagai tambahan bumbu dasar, katanya. Inilah yang membuat soto
daging Pak Markeso rasanya lezat dan nendang di lidah.
Soto Pagi Duro Pak
Markeso ini berlokasi di Jalan Sindoro, Malang atau daerah jalan Ijen. pak
Markeso jualan soto daging madura, dengan menggunakan gerobak yang khas soto
madura, mangkal di pinggir jalan Sindoro di bawah pohon, buka mulai pagi hingga
siang/sampai habis.
12. Rumah Makan Cairo ( Tahun 1952 – Sekarang )
Rumah Makan Cairo
adalah satu-satunya rumah makan di Kota Malang yang menyajikan menu khusus dari
daging kambinng. Dengan membuka warungnya di Jl. Kapt Tendean 1, rumah makan
ini cukup terkenal dengan menu sate kambingnya. Memang, rumah makan yang satu
ini begitu lekat dihati orang Malang. Saking lezatnya sate ini tak hanya orang
Malang saja yang terpikat, banyak pendatang maupun orang luar yang menyempatkan
diri hanya untuk menikmatinya.
Rumah makan Cairo yang berdiri sejak tahun 1952 ini menjadikan daging kambing
sebagai bahan utama dari setiap menu yang disajikannya. Sate Cairo misalnya,
sajian ini merupakan sajian utama yang sangat terkenal. Dengan sekali lirik
saja, selera makan anda langsung tergoda untuk mencicipinya. Sate ini disajikan
dengan irisan daging yang lumayan gede. Dalam penyajiannya, dibubuhi saus
kacang tanah ditambah tempah-rempah alami. Rumah Makan Cairo, Suguhkan Selera
Timur Tengah
13. Depot Soto Lombok ( Tahun 1955 – Sekarang )
Sejak didirikan pada
1955, Depot Soto Ayam Lombok sudah banyak dikenal masyarakat dengan cita
rasanya yang khas. Soto Lombok nampak berwarna keruh kecoklatan, agak kental.
Penyajiannya sendiri terdiri atas nasi dengan potongan kentang rebus, telur
bebek rebus, mie su’un, irisan kubis segar, taoge, potongan daging ayam
kemudian ditaburi koyah. Sajian soto lombok ini akan terasa lebih nikmat jika
dinikmati bersama kerupuk rambak yang terbuat dari kulit sapi dan dicampur
sedikit kecap manis.
Kuliner legendaris
yang satu ini telah melekat pada penanda kekhasan Kota Malang tersendiri. Sebab
tak hanya bakso dan cwi mie, Kota Kuliner ini juga punya ‘Soto Lombok’ yang
legenda citarasanya telah diakui Nusantara.
14. Gado Gado Warung Citra ( Tahun 1956 – Sekarang )
Bahannya sama seperti
gado-gado pada umumnya, lontong, rebusan telur, tahu, selada, kentang, taoge
yang kemudian disiram dengan saus kacang dan kecap. Namun yang istimewa dari
gado-gado ini, ia sudah hadir sejak tahun 1956. Uniknya lagi, gado-gado ini
dijual di atas sepeda kumbang yang hingga kini masih terawat dan kokoh menemani
berjualan. Gado gado Citra ini terletak di Jalan Sutomo, Malang.
15. Warung Rujak Cingur Bude Ruk ( Tahun 1960 – Sekarang )
Bisa dikatakan inilah
warung rujak cingur tertua yang masih ada di Kepanjen. Namanya Warung Rujak
Bude Ruk. Di papan namanya tertulis sejak tahun 1960, tapi menurut beberapa
orang, warung rujak Bude Ruk ini sudah ada sejak tahun 1950-an. Wah, sudah lama
sekali kalau begitu ya?.
Warung rujak ini
berada di Jalan Suruji nomor 17. Tepatnya di gang 1, gang sempit yang
menghubungkan Jalan Suruji dengan Jalan Sultan Agung (Sawunggaling), tepatnya
di sebelah Toko Jawa. Saking terkenalnya Warung Rujak Bude Ruk, sampai-sampai
gang sempit ini pun diberi nama Gang Rujak.
16. Ketan Legenda Batu ( Tahun 1967 – Sekarang )
Di Kota Wisata Batu
terdapat tempat makan terkenal bernama Pos Ketan Legenda – 1967 yang
menghidangkan menu utama hidangan ketan. KWB Pos Ketan Legenda Kota Batu
sendiri terletak di sebelah barat Alun-alun Kota Batu atau lebih tepatnya di
Jl. KH Agus Salim, Junrejo – Batu. Disini Anda akan disajikan aneka menu ketan
mulai dari Ketan Bubuk, Ketan Susu Keju, Ketan Kacang, Ketan Keju Meses, Ketan
Campur, dan Ketan Kicir yang terkenal akan citarasanya yang lezat. Selain aneka
menu ketan, juga terdapat aneka minuman seperti teh, kopi, jossua, sogem, jahe,
STMJ Murni Segar, Susu dan aneka minuman lainnya. Pos Ketan Legenda Kota Wisata Batu dibuka setiap harinya
mulai pukul 15.00 – 03.00 dan untuk mode lesehan/cangkrukandibuka mulai pukul 22.00.
17.
Sate dan Gule Kambing Haji Paino Bunul ( Tahun 1973 – Sekarang )
Warung Sate dan Gule
Kambing Haji Paino Bunul ini sudah ada sejak tahun 1973. Kehadirannya yang
cukup lama di Kota Kuliner ini menjadikan Sate dan Gule Kambing Haji Paino
Bunul sebagai salah satu kuliner Malang yang cukup legenda dan banyak diburu pembeli.
Berbeda dengan
kebanyakan jenis sate dan gule kambing pada umumnya, citarasa kelezatan aneka
menu kambing di rumah makan ini sungguh juara. Pasalnya, selain daging
kambingnya sangat empuk, ‘bau kambing’nya pun tidak tercium sama sekali.
Rasa khas yang diciptakan
mebuat warung ini tidak pernah sepi pengunjung. Kualitas rasa juara, harga
sangat bersahabat. Itulah yang membuat sate dan gule H. Paino ini disukai
banyak kalangan.
18. Pecel Kawi ( Tahun 1975 – Sekarang )
Berdiri sejak tahun
1975, Pecel Kawi ini bisa dibilang merupakan salah satu ikon Kuliner Legendaris
yang ada di kota Malang. Pecel Kawi, dinamakan demikian karena rumah makan yang
menjual menu utama nasi pecel ini terletak di Jalan Kawi.
Tepatnya yakni di
Jalan Kawi Atas nomor 43B/46, Kota Malang. Apalagi, kualitas citarasa khas pecel
yang sudah diwariskan secara turun temurun, telah banyak dikenal di saentaro
Negeri ini. Bumbu khas pecel yang sangat gurih dan lezat menjadikan citarasa
yang menarik.
19. Bakso Presiden ( Tahun 1977 – Sekarang )
Bakso President
berawal dari kegigihan dan keuletan Bapak H. Abd. Ghoni Sugito. Beliau
berjualan bakso sejak tahun1977, waktu itu masih menjadi penjual bakso pikul
keliling yang bahannya diambil dari orang lain. Rekan-rekannya sesama penjual
bakso keliling biasanya paling laris bisa mendapatkan Rp 3.500 dalam seharinya,
tetapi Pak Sugito ini dapat menghasilkan sampai Rp 10.000. Itu karena bahan
yang diambil dari juragannya dimodifikasi terlebih dahulu sehingga mendapatkan
cita rasa yang istimewa. Akhirnya terkumpullah modal untuk mandiri.
Pada tahun 1980,
beliau sudah memiliki 15 gerobak keliling. Usahanya semakin maju dan akhirnya
dimulailah untuk berjualan menetap. Awalnya dengan warung tenda di Pasar
Senggol (Pasar Burung sekarang) pada tahun 1983. Kemudian karena lokasi itu
terkena proyek bangunan, lokasi berjualan diputuskan pindah ke tempat lain.
Dengan pertimbangan mencari lokasi yang ramai pengunjungnya maka dipilihlah
berjualan di belakang Bioskop President (Mitra 2 Departement Store sekarang).
Itulah makanya usaha Beliau dinamakan Bakso President.
Sumber : http://berita.grosirkeripik.com/19-kuliner-legendaris-di-malang/